1 com

Desain tempat tidur unik

Tempat tidur adalah tempat yang selalu dirindukan oleh setiap orang ketika kelelahan mulai mengerumuni benak dan tubuhnya… Jika anda ingin mendapatkan kualitas tidur yang baik, biasanya bisa anda peroleh ketika tempat tidur itu memberikan kenyamanan yang baik untuk penggunanya.
Berikut ada beberapa desain tempat tidur terunik yang pernah saya lihat:
1. Sonic Bed
Tempat tidur sonic adalah tempat tidur ukuran besar dengan 12-channel disekelilingnya. Tempat tidur ini mungkin terlihat seperti sebuah tangki kayu dari luar, tetapi di bagian dalamnya terdapat speaker bagaikan home theatre.
2. Single/double bed
Tempat tidur ini bisa digunakan sesuai kebutuhan kita, mau dijadikan single bed atau bahkan bisa dijadikan double bed juga.
3.Bookcase bed
4. Illuminated bed
Tempat tidur ini mempuyai keunikan dimana warnanya bisa diubah sesuai dengan keingin penggunanya, hal ini karena pada tempat tidur tersebut dilengkapi dengan program pencahayaan.
5. Dino bed
Tempat tidur ini cocok sekali untuk yang menyukai dinosaurus
6. Fairytale bed
Bagaikan menaiki kereta kencana sang cinderella, sangat cocok bagi mereka pecinta dunia dongeng.
7.  Hamburger bed
8. Park bed
Tempat tidur jenis ini sangatlah unik, karena didesain menyerupai suatu taman, dimana terkadang ketika seseorang sedang membaca buku di bawah rindangnya pohon mampu tertidur dengan lelapnya. Benar-benar konsep yang unik!
9. The Crazy Horse Free Form Bed
Tempat tidur ini sengaja dirancang bagi mereka yang mempunyai hobi bertualang dan senang dengan karya seni yang unik.
10. Molecular bed
Tempat tidur ini dirancang bagi mereka yang memiliki kreatifitas untuk mengubah-ubah desain tempat tidurnya sesuai dengan kebutuhan pengguna, jadi tempat tidur ini tidak hanya digunakan untuk tidur saja, namun bisa diubah menjadi tempat duduk.
11.  Private cloud bed
12. Scoop bed
_.:I’m in love with my bed. But my alarm clock won’t let us be together:._
1 com

Desain Arsitektur Meru

Arsitektur Meru merupakan salah satu arsitektur bangunan suci umat Hindu di Bali kuno yang masih bertahan sampai saat ini, yang sangat agung, megah dan monumental dan sarat dengan kandungan makna simbolis dan kekuatan religius. Meru dijumpai pada pura-pura besar di Bali dengan ciri khasnya adalah atapnya yang bertumpang tinggi.
Meru tidak hanya dijumpai di pura-pura di Bali, tapi juga pada upacara-upacara ngaben (kremasi) di Bali sebagai wadah sawa atau watang (mayat) pada upacara pitra yadnya yang lebih dikenal dengan nama bade. Apa sesungguhnya makna dan fungsi, serta bagaimana tata letak, bentuk, sampai ornamen meru?

MERU dibangun berdasarkan pada keakuratan proporsi, logika teknik konstruksi dan keindahan ragam hias, yang berpegang teguh kepada kearifan lokal arsitektur tradisional Bali seperti Hasta Kosala Kosali, Hasta Bumi, Lontar Andha Buana, Lontar Jananthaka, dll. Konstruksi meru merupakan konstruksi tahan gempa yang telah teruji keandalannya. Gempa yang sangat dahsyat dengan kekuatan yang sangat besar yang pernah terjadi di Bali (seperti di Seririt, Buleleng), dimana bangunan konstruksi modern banyak yang roboh, namun bangunan-bangunan suci di Bali -- khususnya meru -- masih berdiri dengan kokoh, kuat, stabil, dan tegak.
Makna dan Fungsi Meru ( Asal usul meru )
Meru, didasarkan kepada kutipan yang tercantum pada lontar-lontar warisan leluhur seperti Lontar Andha Bhunana, mengandung makna simbolis atau filsafat sbb.;
Matang nyan meru mateges, me, ngaran meme, ngaran ibu, ngaran pradana tattwa; muah ru, ngaran guru, ngaran bapa, ngaran purusa tattwa, panunggalannya meru ngaran batur kalawasan petak. Meru ngaran pratiwimbha andha bhuana tumpangnya pawakan patalaning bhuana agung alit.
Artinya, "Oleh karena itu meru berasal dari kata me, berarti meme = ibu = pradana tattwa, sedangkan ru berarti guru = bapak = purusa tattwa, sehingga meru berarti batur kelawasan petak (cikal bakal leluhur). Meru berarti lambang atau simbol alam semesta, tingkatan atapnya merupakan simbol tingkatan lapisan alam yaitu bhuana agung dan bhuana alit".
Jadi, berdasarkan keterangan dalam Lontar Andha Bhuana tersebut, meru memiliki dua makna simbolis yaitu meru sebagai simbolisasi dari cikal bakal leluhur dan simbolisasi atau perlambang dari alam semesta. Lebih lanjut diuraikan, meru punya dua makna sbb.;
1. Meru sebagai perlambang atau perwujudan dari Gunung Mahameru
Gunung adalah perlambang alam semesta sebagai stana para Dewata, Ida Sang Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa) atau Papulaning Sarwa Dewata. Meru mempunyai makna simbolis dari gunung juga diuraikan dalam Lontar Tantu Pagelaran, Kekimpoi Dharma Sunia dan Usana Bali.
Dalam hal ini, meru sebagai Dewa Pratista -- berfungsi sebagai tempat pemujaan atau pelinggih para Dewa. Meru sebagai Dewa Pratista terdapat dalam kompleks pura seperti Pura Sad Kahyangan, Kahyangan Jagat dan Kahyangan Tiga.
2. Meru melambangkan "Ibu" dan "Bapak" sebagaimana diuraikan dalam Lontar Andha Bhuana.
Ibu mengandung pengertian Ibu Pertiwi yaitu unsur pradhana tattwa dan Bapak mengandung makna "Aji Akasa" yaitu unsur purusa tattwa. Manunggalnya pradhana dan purusa itulah merupakan kekuatan yang maha besar yang menjadi sumber segala yang ada di bumi. Inilah yang merupakan landasan bahwa meru berfungsi sebagai tempat pemujaan roh suci leluhur di kompleks pura-pura Pedarman Besakih. Di sini, meru sebagai Atma Pratista yaitu berfungsi sebagai tempat pemujaan roh suci leluhur atau sebagai stana Dewa Pitara.
Berdasarkan uraian itu, kesimpulannya, meru bermakna sebagai perlambang Gunung Mahameru, perlambang Tuhan Yang Maha Esa (alam semesta) dan "Ibu Bapak" (purusa pradhana), berfungsi sebagai tempat pemujaan atau stana para dewa-dewi, betara batari, dan roh suci leluhur. Hal ini lebih tegas juga diuraikan dalam Lontar Purana Dewa, Kesuma Dewa, Widhi Sastra, Wariga Catur Winasa Sari dan Jaya Purana.
Filosofi Atap
Keindahan dan keagungan meru ditonjolkan oleh bentuk atapnya yang bertingkat-tingkat yang disebut atap tumpang. Ini dapat dibedakan atas meru tumpang satu, dua, tiga, lima, tujuh, sembilan, dan sebelas.
Meru sebagai perlambang atau simbolis alam semesta, tingkatan atapnya merupakan simbolis tingkatan lapisan alam yaitu bhuana agung (alam besar atau makrokosmos) dan bhuana alit (alam kecil atau mikrokosmos) dari bawah ke atas sebanyak sebelas tingkatan.

Tingkatan tersebut yaitu 1 = Sekala, 2 = Niskala, 3 = Cunya, 4 = Taya, 5 = Nirbana, 6 = Moksa, 7 = Suksmataya, 8 = Turnyanta, 9 = Ghoryanta, 10 = Acintyataya, dan 11 = Cayen.

Ada juga meru beratap 21, namun biasanya ini dapat dilihat pada wadah atau bade pada saat ada upacara ngaben di Bali. Meru "khusus" ini memiliki pengertian Dasa Dewata sebagai dasar pokok, kemudian ditambah 11 tangga atma sebagai kelanjutannya.

Foto bade ini akan dijelaskan lebih lengkap oleh bli wiatnata

Tingkatan-tingkatan atap meru adalah simbolisasi penyatuan dasa aksara (huruf suci) sebagai urip (jiwa) dari meru atau alam semesta. Sepuluh huruf suci ini merupakan urip bhuana yang letaknya di 10 penjuru alam semesta termasuk di tengah.
Ke-10 huruf itu adalah huruf suci sa (letaknya di timur, dewanya Iswara dan warnanya putih), ba (selatan, Brahma, merah), ta (barat, Mahadewa, kuning) a (utara, Wisnu, hitam), i (tengah, Ciwa, campuran atau panca warna), na (tenggara, Mahesora, merah muda atau dadu), ma (barat daya, Rudra, jingga), si (barat laut, Sangkara, hijau), wa (timur laut, Sambu, biru) dan ya (tengah atas, Ciwa, panca warna).

Penunggalan 10 huruf itu menjadi satu lambang aksara suci bagi umat Hindu yaitu Omkara (huruf suci Sanghyang Widi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa). Sedangkan pengejawatahan ke-10 huruf suci dan huruf suci Omkara dalam meru diuraikan sbb.:

* Meru beratap 11 adalah lambang dari 11 huruf suci -- 10 huruf suci + huruf suci Omkara sebagai lambang Eka Dasa Dewata.

* Meru beratap 9 adalah lambang 8 huruf di seluruh penjuru (sa, ba, ta, a, na, ma, si, wa) + satu huruf Omkara di tengah, 9 huruf itu lambang Dewata Nawa Sanga.

* Meru beratap 7 adalah lambang 4 huruf (sa, ba, ta, a) + 3 huruf di tengah (i, Omkara, ya). Ini lambang Sapta Dewata/Rsi.

* Meru beratap 5 adalah simbolis dari 5 huruf (sa, ba, ta, a) + satu huruf Omkara di tengah. Ini lambang Panca Dewata.

* Meru beratap 3 adalah simbolis dari 3 huruf di tengah (i, Omkara, ya), merupakan lambang Tri Purusa yaitu Parama Siwa, Sada Siwa dan Siwa.

* Meru beratap 2 adalah simbolis dari dua huruf di tengah (i, ya) adalah lambang dari Purusa dan Pradhana (Ibu-Bapak).

* Meru beratap satu adalah simbolis dari penunggalan ke-10 huruf suci itu yaitu "Om" atau Omkara sebagai perlambang Sang Hyang Tunggal (Sanghyang Widi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa).

Bentuk dan Ornamen Meru

Meru secara tata letak berada pada tempat pemujaan di halaman utama (jeroan) dari suatu pura. Dari segi orientasi, meru umumnya menghadap ke barat sebagai tempat pemujaan utama berderet pada sisi timur dari utara ke selatan (kaja-kelod) dengan bangunan-bangunan padma, gedong, dan pemujaan suci lainnya sehingga arah pemujaan menghadap ke timur ke arah matahari terbit. Namun di beberapa pura di Bali, terkait dengan kondisi alam dan filosofis khusus dari pura bersangkutan, ada meru yang menghadap ke selatan seperti Pura Kehen, Bangli, dan menghadap timur laut seperti Pura Uluwatu, Badung, sehingga arah pemujaannya menghadap ke ke utara (Pura Kehen) dan dan barat daya (Pura Uluwatu).

Dari segi bentuk, meru seperti bangunan suci lainnya dibedakan atas bagian kepala (atap), badan (ruang pemujaan atau tempat meletakkan pratima), dan kaki (bebaturan) atau yang dikenal dengan konsep Tri Angga. Walaupun meru dapat dibagi atas tiga bagian (kaki, badan, dan kepala), namun secara proporsi dan penyelesaiannya sangat berbeda. Dalam penyelesaian proporsi bebaturan, tampak badan (ruang pemujaan), penyelesaian tumpang atap meru dan penggunaan ornamen serta bahannya pun sangat bervariasi sesuai dengan kondisi masing-masing daerah di Bali.

Ini berdasarkan pengamatan pada meru yang ada di kompleks Pura Besakih, Pura Batur, Pura Taman Ayun, Pura Kehen, Pura Danau Beratan, dll. Sedangkan dari segi dimensi, denah meru berbentuk segiempat dengan ukuran dasar bervariasi, 5m x 5m, 3m x 3m, sampai 7m x 7m dan tingginya pun bervariasi sampai mencapai 10m, bahkan lebih tergantung jumlah tumpang atapnya.

Bagian badan ditutup dengan menggunakan bahan kayu atau pasangan batu bata, batu kali, paras atau batu karang (sesuai kondisi lokasi) dan di dalamnya terdapat pepaga (altar) atau bale-bale yang berfungsi sebagai tempat menaruh pratima berupa lingga, arca, patung dewa-dewi sebagai simbol sinar manifestasi kekuatan Hyang Widi Wasa dan sesajen pada saat upacara berlangsung serta dilengkapi dengan pintu masuk untuk manusia yang melakukan persembahyangan di dalam ruangan atau badan meru. Karakter pada ruang pemujaan ini memiliki sifat vertikalisme yang tinggi, sehingga seakan-akan orang ditarik ke atas. Hal ini disebabkan oleh pengaruh bentuk ruang di dalamnya yang menerus dari bawah ke atas, sehingga terjadi tarikan udara ke atas yang dihembuskan menerebos melalui celah-celah antar tumpang atap meru.

Dari segi bentuk bebaturan (kaki), meru dibedakan atas meru dengan bebaturan tinggi dan pendek. Dari segi stabilitas massa, maka bentuk meru dengan batur pendek akan lebih stabil dibandingkan batur tinggi. Kestabilan ini erat kaitannya dengan titik berat massa bangunan. Umumnya, meru dengan batur pendek banyak dijumpai pada pura-pura di pegunungan. Di samping lebih stabil, juga karena hiasan ornamen atau ragam hias pada bebaturan-nya akan lebih sedikit atau lebih ekonomis. Namun secara umum, bentuk dan dimensi dari meru didasarkan kepada aturan Hasta Kosala Kosali sehingga menghasilkan keharmonisan antara ketepatan proporsi, kekuatan konstruksi dan keindahan ragam hias.

Ornamen pada meru hampir serupa dengan bangunan suci pura lainnya yang sarat dengan kekarangan dan pepatraan yang menunjukkan keharmonisan manusia dengan alamnya yaitu melambangkan flora dan fauna. Pada ujung atap limas meru yang digolongkan ke bagian kepala, umumnya ditemukan ornamen yang disebut murdha seperti murdha bantala pada meru di Pura Besakih. Pada bagian badan meru, terutama pada bagian atas pintu gedong, biasanya terdapat ornamen karang sae. Daun pintunya biasanya memakai ukiran bermotif patra olanda. Selanjutnya pada sendi atau tatakan saka (kolom) memakai patung singa seperti yang terdapat di meru Pura Besakih, atau ada juga yang memakai sendi biasa seperti yang terdapat pada meru di Pura Batur.

Ornamen yang terdapat pada bagian bebaturan berupa pepalihan, karang asti atau karang gajah pada setiap sudut, karang tapel pada bagian tengah di keempat sisi pada bagian paling dasar di atas tepas hujan. Kemudian pada bagian atasnya terdapat karang goak di keempat sudut dan karang bunga dan simbar gantung pada bagian tengah.
Ornamen berupa patung naga dan bedawang nala (kura-kura) biasanya dapat dilihat pada bagian dasar kaki dan tangga meru. Naga dan kura-kura sebagai perlambang kemakmuran. Juga dilengkapi patung-patung lain sesuai dengan kondisi masing-masing pura seperti arca dewa, arca manusia, dan lain-lain
0 com

Kontropersi bangunan berketinggian diatas 15 m di Bali

Wayspic - Bangunan ketinggian 15 meter.

Sex mungkin penghancur nomer satu Bali.
Memperhatikan permasalahan perda yang mengatur tentang ketinggian bangunan berlantai di Bali yang memperhitungkan keajegan dan kesucian bali memang cukup kontrofersial.

           Bagaimana tidak, bangunan yang berketinggian 15 meter keatas ini menimbulkan dua perbedaan dukungan. Mulai dari yang mendukung maupun yang menolak keras adanya bangunan tinggi. Tetapi bila dikaji lebih dalam, dampak negatif dan baiknya sendiri adalah sama-sama seimbang. Dan inilah pertimbangannya :




Dampak negatif bangunan tinggi di Bali
(Menyikapi kelanggengan taksu Bali)

1. Bangunan ini haruslah memiliki faktor fasilitas yang baik.
    Berarti dilantai atas haruslah ada toilet.

2. Bangunan ini memang bertujuan untuk dihuni.
    Berarti akan ada orang yang tidur dan keraktifitas dilantai atas (entah itu ngapain).

3. Bangunan ini berada sangat tinggi dari permukaan sekitar.
    Berarti pelinggih Bali akan berada jauh dibawak kreatifitas yang tadi (entah itu ngapain).

Tetapi
Dampak positif yang dapat ditimbulkan bangunan 15 meter

1. Tanah Bali ini sempit.
    Berarti lantai 15 meter akan memperkecil ruang bangunan (KDB).

2. Bali adalah daerah pulau pariwisata.
    Berarti bangunan ini akan mendukung penampungan penduduk pengunjung / wisatawan yang akan menginap berlibur di Bali.

3.  Bangunan ini akan memenuhi kebutuhan para wisatawan untuk beristirahat sesuai standar internasional.
    Berarti dengan keberadaan fasilitas internasional, Bali adalah pulau yang sigap.



Terus seberapa besar pengaruh Bangunan tinggi terhadap Taksu Bali (kesucian dan keasrian Bali) ???
seandainya :
1. Bangunan itu kita desain dengan style Bali
2. Bangunan tersebut tetap kita adakan upacaranya
3. Bangunan itu tetap diharuskan kepemilikan orang Bali.
Maka :
Seharusnya sangat sedikitlah bangunan itu merusak Bali.
Terus apa yang merusak Taksu Bali??? 
Bali ini pasti rusak karena :
1. Kita tergiur dengan budaya luar (pakaian hot pans ato sjenisnya)
2. Kita terlalu silau dengan istilah "Bali adalah pulau surga" yang lain jelek / neraka.
3. Mulai merendahnya ketertarikan kita dengan seni bali (kidung, kekawin, tabuh, dan sebagainya)
4. Kita tidak konsekuen terhadap perbandingan masyarakat Bali dengan orang luar.
Dan yang mungkin merusak adalah
1. Orang luar Bali yang tidak berguna.
2. Orang luar Bali yang tidak tau seni.
3. Orang luar Bali yang tak beriman, sehingga Bali ini keamanannya berkurang.


Terus Menurut Kalian, Kita Apakan Orang Luar yang sukanya cuma BeERKOHOTBOouH itu?
Lakukanlah :)
1 com

Tembok Pembatas Minimalis



Wayspic - Desain tembok pembatas minimalis.


Penggunaan dasar batako, ditambah dengan sedikit tempelan batu dengan perpaduan style minimalis dan  konsep style bali, telah menjadikan tembok penyengker / pembatas rumah ini cukup rapi.
0 com

Seninya Bali

1 & 2 (SIKUT SATAK & TRI HITA KARANA)

Wayspic - Mendengar desain Bali, berarti kemungkinan anda kenal juga dengan istilah sikut satak.
dimana sikut satak adalah area ayahan desa atau area yang boleh dijadikan paket hunian rumah. Dimana rumah ini terdiri dari satu kepala keluarga atau lebih, yang berhak mengatur tatanan rumah dan keluarganya masing-masing. Tanah sikut satak ini tidak boleh diperjual belikan dengan uang atau barang apapun, tetapi hanya diperkenankan mewarisi kepada keturunan atau orang lain, yang bersedia mengabdi dan menjalankan pemerintahan adat istiadat di desa setempat.

Lihatlah gambar diatas.
terlihat ada merajan (parhyangan) dan areal pembangunan rumah (pawongan).
     Berada pada posisi dinamis, sehingga walaupun bahan bangunan tidak mahal, tetapi tetap bagus terlihat.

Dan lihatlah saka (tiang bangunan ini).
dengan ukuran satu rai dan dengan perbandingan bagian lain bangunan mempergunakan aturan asta kosala kosali, maka tampilan bangunan akan tetap exis

       
gambar klumpu. (lumbung padi) yang berbahan dan ukuran kuno yang tetap sangat seni

          Mengingat istilah paket hunian rumah tadi, sangat eratlah hubungannya dengan sistem pembangunan rumah di Bali, yang biasa dikenal dengan "Tri Hita Karana". 

           Tri Hita Karana ,berasal dari bahasa sansekerta. Dari kata Tri yang berarti tiga, Hita berarti sejahtera dan Karana berarti penyebab. Pengertian Tri Hita Karana adalah tiga hal pokok yang menyebabkan kesejahteraan dan kemakmuran hidup manusia.Konsep ini muncul berkaitan erat dengan keberadaan hidup bermasyarakat di Bali. Berawal dari pola hidup ini muncul dan berkaitan dengan terwujudnya suatu desa adat di Bali. Bukan saja berakibat terwujudnya persekutuan teritorial dan persekutuan hidup atas kepentingan bersama dalam bermasyaraakat,juga merupakan persekutuan dalam kesamaan kepercayaan untuk memuja Tuhan atau Sang Hyang Widhi.Dengan demikian suatu ciri khas desa adat di Bali minimal mempunyai tiga unsur pokok,yakni :wilayah,masyarakat dan tempat suci untuk memuja Tuhan/Sang Hyang Widhi.Perpaduan tiga unsur itu secara harmonis sebagai landasan untuk terciptanya rasa hidup yang nyaman,tenteram,dan damai secara lahiriah maupun bathiniah. Seperti inilah gambaran kehidupan desa adat di Bali yang berpolakan Tri Hita Karana.


Bidang Garapan Tri Hita Karana

Adapun bidang garapan Tri Hita Karana dalam kehidupan bermasyarakat,adalah sebagai berikut:

1. Bhuana dan Karang Desa. Bhuana adalah alam semesta,Karang Desa adalah wilayah teritorial 

dari suatu desa adat yang telah ditentukan secara definitif batas kewilayahannya dengan suatu 
upacara adat keagamaan .

2. Kerama Desa Adat,yaitu kelompok manusia yang bermasyarakat dan bertempat tinggal di wilayah

desa adat yang dipimpin oleh seorang Bendesa Adat dan dibantu oleh prajuru (aparatur) desa adat
lainnya seperti kelompok-kelompok Mancagra, Mancakriya dan Pemangku ,bersama-sama 
masyarakat desa membangun keamanan dan kesejahteraan masyarakat.

3. Tempat Suci adalah tempat untuk memuja Tuhan/Sang Hyang Widhi dan Sang Hyang Widhi 

sebagai pujaan bersama yang diwujudkan dalam tindakan dan tingkah laku sehari-hari. Tempat 
pemujaan ini diwujudnyatakan dalam bentuk Pura Kayangan Tiga. Setiap desa adat di Bali wajib 
memilikinya.. Pura Kayangan Tiga itu adalah : Pura Desa,Pura Puseh,Pura Dalem.Pura 
Kahyangan Tiga di desa adat di Bali seolah-olah merupakan jiwa dari Karang Desa yang tak 
terpisahkan dengan seluruh aktifitas dan kehidupan desa.


Manfaat Tri Hita Karana dalam Kehidupan Sehari-hari dalam Rangka Melestarikan Lingkungan Hidup
Di dalam kehidupan masyarakat Hindu di Bali, kesehariannya menganut pola Tri Hita Karana.Tiga unsur ini melekat erat setiap hati sanubari orang Bali. Penerapannya tidak hanya pada pola kehidupan desa adat saja, namun tercermin dan berlaku dalam segala bentuk kehidupan bermasyarakat,maupun berorganisasi.Seperti salah satu organisasi pertanian yang bergerak di bidang pengairan yakni Sekehe Subak. Sistem Sekehe Subak di Bali mempunyai masing-masing wilayah subak yang batas-batasnya ditentukan secara pasti dalam awig-awig (peraturan ) subak.Awig-awig ini memuat aturan-aturan umum yang wajib diindahkan dan dilaksanakan.apabila dilangggar dari ketentuan itu akan dikenakan sanksi hukum yang berlaku dalam awig-awig persubakan. Tri Hita Karana Persubakan menyangkut adanya sawah sebagai areal,ada krama subak sebagai pemilik sawah,dan ada Pura Subak atau Ulun Suwi tempat pemujaan kepada Sang Hyang Widhi dalam manisfestasinya sebagai Ida Batari Sri,penguasa kemakmuran


3. ASTA KOSALA KOSALI


          Seinging terbentuknya bagian hukum Tri hita karana pada penerapan sikut satak, maka dalam hakekatnya sebuah hukum, aturan dan peraturanlah yang akan menghukum yang salah dan melindungi yang benar.
Tetapi ingatlah, Bali adalah pulau dewata wang dikenal dengan taksu, taksu adalah suatu kekuatan magis yang tidaknya dilihat mata secara langsung. Maka sesuai dengan taksu pulau dewata, betitu jugalah hukum tri hita karana yang adalah bagian dari asta kosala kosali (hukum yang benar keberadaannya, diyakini kami' Umat Hindu , dan memang pasti kegunaannya.

Adapun beberapa aturan asta kosala kosali yang berhubungan erat dengan sikut satak karang ayahan desa di Bali, meliputi

1. Besar saka ( Tiang bangunan bale ) adalah sebesar rai pemiliknya.
2  Jarak sunduk ( Pengunci tiang bale dangin ).
3. Jumblah telapak kaki dari bale gong ke bale dangin sebanyak 11 langkah.


KESIMPULAN
Terus apa hubungan Tri Hita Karana Terhadap Sikut Satak??
Sikut satak haruslah berisi 3 pembagian area (tempat Widhi, tempat manusia, dan tempat binatang dan tumbuhan)

Jadi apa hubungan asta kosala kosali dengan sikut satak??
Sikut satak yang ber-Tri Hita Karana akan nyaman. dengan ditambah dengan aturan jarak dan besar tata ruang yang benar, maka sikut satak akan menjadi tempat yang indah, nyaman, sehat dan ngangenin.

saya
I Wayan Heri Pratama



0 com

Desain taman asri


Wayspic. Haloo lihatlah gambar brikut.
Gambar ini bukanlah hasil jepretan wayspic di alam langsung, tetapi hasil jalan-jalan browsing.

Taman rumah adalah simbol dari pemilik rumah, karena bisa menunjukan kepribadian penghuninya. Bahkan pada saat ini taman bukan sekedar pelengkap saja. Namun sudah menjadi kepentingan yang tingkatannya sebanding dengan arsitek maupun interior dalam ruang.Jadi tidak mengherankan bila banyak yang beranggapan bila taman rumah menunjukkan penghuni rumah tersebut. Karena itu banyak orang yang membuat desain taman rumah minimalis dengan tidak asal-asalan saja.









Desain Taman untuk Rumah Minimalis

.Ada beberapa desain taman rumah minimalis yang tetap telihat bagus meski konsep desainnya berlainan dengan konsep desain rumah. Yaitu :

1. Mediteranian

Desain ini sangat cocok untuk dipadukan dengan rumah minimalis. Karena bisa menampilkan bermacam jenis bentuk dan tekstur tanaman pada nuansa yang serba hijau. Akan nampak lebih bagus lagi bila taman rumah minimalis ini dilengkapi dengan kolam ikan yang ada pancurannya.

2. Tropis

Bagi yang suka penampilan lembut, bisa memilih desain ini. Garis-garis yang dimunculkan akan mampu menyamarkan garis yang tegas pada desain bangunan.Yang perlu diperhatikan ketika membuat desain ini adalah pilihlah tanaman yang ketika berbunga warnanya kontras dengan warna rumahnya

3. Taman Jepang

Taman bergaya negeri sakura ini banyak pesan filsafatnya. Tanaman yang paling cocok digunakan adalah yang punya tekstrur tidak keras dengan ukuran yang pendek-pendek saja.

4. Taman Amerika

Bila menggunakan model ini, pilihlah tanaman yang daunnya banyak dan rindang. Cocok sekali bagi orang yang suka melakukan berbagai macam kegiatan di luar ruang. Dan bila ingin membuat taman rumah minimalis dengan konsep ini harus punya lahan yang cukup luas

5. Taman Inggris

Sangat cocok digunakan untuk rumah yang ukurannya besar. Karena akan bisa menambah kesan gagah dan berwibawa pada bangunan. Model taman Inggris ini juga perlu lahan yang lebar. Karena membutuhkan tempat untuk menaruh lampu hias taman dan kursi besi untuk bersantai.


Jadi bagi mungkin siswa STM yang bakal membuat desain eksterior, menghayallah :D

Sumber wayspic & browsing
0 com

Sarana Buis


  Gambar 1. Pembangunan bangunan saluran air



Bali, wilayah ini sangatlah dikenal dengan sistem pengairan sawahnya (subak). Seiring kemajuan zaman, tidaklah salah mencoba penampilan saluran baru dengan bahan buis. Selain memperkuat pinggiran, desain ini akan tetap menampilkan nilai estetika yang seni.


Foto: Erick
Lokasi: Dekat gang elang, Batuyang, Gianyar